Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial
DOI:
https://doi.org/10.35897/dialektikaloka.v1i1.2081Kata Kunci:
komunikasi interpersonal, berpikir kritis, radikalisme, media sosial, pesantrenAbstrak
Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui strategi komunikasi interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot dalam menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Metode penelitian yang dilakukan yaitu penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan naratif. Subjek pada penelitian ini adalah Pengasuh dan santri Pondok Pesantren Al-Khoirot. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat enam strategi yang diterapkan pengasuh dalam upaya menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Keenam strategi tersebut terbagi menjadi tiga perspektif komunikasi interpersonal, yakni perspektif situasional, perspektif perkembangan, dan perspektif interaksional. 1) Perspektif situasional dengan mengulang materi di setiap pengajian dan membuka sesi tanya jawab, hal ini diterapkan dalam upaya memberikan pemahaman kepada santri. 2) perspektif perkembangan dengan menerbitkan buku dan buletin santri, kedua strategi ini diterapkan dalam upaya membangun hubungan akrab dengan santri, agar santri benar-benar paham terhadap apa yang disampaikan oleh pengasuh. 3) perspektif interaksional dengan membentuk organisasi alumni dan mengetahui esensi media sosial, kedua strategi ini diterapkan dalam upaya memberikan pengasuh positif terkait isu radikalisme yang ada di kehidupan sehari-hari maupun di media sosial. Strategi ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang keilmuan, misalnya membentuk karakter anak, memberikan sajian materi, dan lain sebagainya. Sikap kritis yang diterapkan santri Al-Khoirot adalah berdasarkan indikator sikap kritis, di antaranya: berpikir secara konten, mempunyai sikap-sikap intelektual, standar intelektual universal, membedakan antara informasi, iklan, dan pengetahuan, dan berpikir kritis berdasarkan kemampuan diri sendiri. Berdasarkan indikator tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap kritis yang ditunjukkan oleh santri tidak mendalam seperti halnya sikap kritis yang diterangkan oleh Richard Paul.
